PARIWISATA BANYUWANGI DIDUKUNG KEMENPAREKRAF TERAPKAN CHSE DI OBYEK WISATA, HOTEL, RESTORAN, BANDARA DAN SARANA PENDUKUNG LAINNYA UNTUK KESEHATAN WISATAWAN BAGIAN II

Total Views : 132
Zoom In Zoom Out Read Later Print

Di hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan di Banyuwangi dan mengunjungi obyek wisata berikut

<!--[if !supportLists]-->Ø  <!--[endif]-->Gunung Ijen

  Di hari ke dua kami di Banyuwangi, kami mengunjungi gunung Ijen, sekitar pukul 1.00 pagi kami berkumpul di lobby hotel Kokoon, lalu menaiki mobil menuju gunung ijen, setelah berkendara selama 1,5 jam kami tiba di pos tempat pengunjung berkumpul, di sini kami di data oleh petugas gunung Ijen tepat di depan gerbang untuk naik, di sini petugas juga memeriksa apakah pengunjung yang akan naik mengenakan masker atau tidak, penggunaan masker wajib di kawasan  ini selain sesuai protokol kesehatan mencegah penyebaran COVID 19, juga untuk melindungi diri dari bau belerang yang menyengat.

Setelah itu  mulailah kami berjalan beriringan, bagi rekan-rekan yang trekking di pagi hari seperti kami, kami menyarankan untuk memakai baju hangat karena suhu amat dingin, selain itu bawa juga jas hujan karena kadang hujan turun, beruntung saat itu hanya gerimis yang kami alami, sebagai peralatan tambahan bawa juga senter untuk menerangi jalan yang gelap beserta dan air minum serta makanan kecil, usahakan selalu berjalan dalam kelompok dan jangan sampai terpisah, sepanjang jalan menuju puncak ada 5 pos di mana pengunjung bisa beristirahat.

Sekitar pukul 4.41 kami tiba di puncak, dari sini pemandangan kawah Ijen terlihat jelas, kabut kadang turun dan menghalangi pemandangan, namun kami beruntung di hari itu cuaca cerah sehingga foto-foto kawah Ijen yang bagus bisa kami dapatkan, ada beberapa spot foto yang menarik di sini.  Biasanya kami bertemu penambang belerang yang membawa belerang dengan berat puluhan kilogram di keranjang kayu, namun karena hari itu hari Jumat, kami tidak bertemu. Penambang belerang bekerja setiap hari kecuali hari Jumat. Setelah berada sekitar 2 jam di puncak kami pun turun, dan tiba di bawah sekitar pukul 8.00. lalu kembali ke hotel.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Srengenge Wetan

Setelah sholat Jumat, dari hotel kokoon kami makan siang di Srengenge Wetan, sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Banyuwangi, sebelum masuk, karyawan rumah makan mengenakan masker lengkap dengan face shield, mengecek suhu tubuh kami dengan thermo gun,lalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik yang diberikan. Selain itu kursi dan meja pun di atur sedemkian rupa untuk menjaga jarak antar tamu, karyawan rumah makan dengan face shield dan masker membersihkan meja dan menyemprotkan cairan antiseptic setelah tamu selesai makan. Menu andalan tempat ini adalah rujak soto, ayam betutu, nasi tempong dll.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Taman Nasional Baluran

Tujuan terakhir kami di hari kedua ini adalah mengunjungi Taman Nasional Baluran yang sebenarnya masuk kabupaten Situbondo. Kawasan seluas puluhan ribu hektar ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang mengagumkan mulai dari menjangan, banteng, burung Merak, kera ekor panjang, burung Rangkong, ayam hutan dan lainnya sedang untuk tumbuhan ada Mimba, Widoro Bukol, Pilang dan lainnya, di sini kita akan menemukan sabana, hutan musim, hutan mangrove, hutan rawa, hutan evergreen, dan hutan pantai.

 

 Tempat yang banyak dikunjungi adalah hutan Evergreen, sesui namanya hutan ini akan selalu hijau meski di musim kemarau pun, saat berjalan di dalamnya kita seperti menyusuri lorong yang dinaungi pepohonan hijau. Saat mauk ke dalam kadang kita akan menemui kupu-kupu yang beterbangan. Selain itu ada Padang Savanna Bekol, bila pada musim hujan pohon dan tanaman di tempat ini hijau, maka pada musim kemarau, pohon dan tanaman itu mongering sehingga pemandangannya nampak seperti padang savanna di Afrika, saat berkunjung ke tempat ini kami menyaksikan rombongan banteng yang menyeberang jalan, bila sedang beruntung kita juga dapat menyaksikan hewan lain yang bergerombol seperti rusa dan lainnya.

Taman Nasional Baluran memiliki pantai yang di kenal dengan nama pantai Bama disini kita bisa berjalan di atas pasir pantai putih yang lembut atau sekedar duduk di tepi pantai.

Seperti tempat wisata lainnya di Banyuwangi, Taman Nasional Baluran juga disiplin dalam pelaksanaan CHSE dimana ada wastafel berisi sabun antiseptik dan pengukuran suku tubuh sebelum masuk kawasan.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Pantai Watudodol 

 Di hari ketiga kami mengunjungi wisata bahari dimulai pantai Watudodol, karakteristik pantai ini adalah warna pasirnya yang hitam, di sepanjang pantai terdapat warung-warung dimana kita bisa duduk dan memesan kopi, kelapa muda dan makanan lainnya. Sebelum masuk ke pantai, seluruh pengunjung akan di cek suhu tubuhnya oleh petugas menggunakan thermos gun, dilanjutkan dengan mencuci tangan  di wastafel bersama sabun yang diletakkan di depan pintu masuk, penjelasan mengenai pentingnya CHSE juga mudah ditempel di banyak tempat.

Dari pantai Watudodol kami akan menaiki kapal menuju pulau Tabuhan dan pulau Menjangan, sebelum menaiki kapal kami mengambil life vest dan alat snorkel yang telah di bersihkan sesuai protokol kesehatan yaitu di cuci dengan sabun.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Pantai Tabuhan

 Setelah 30 menit di atas perahu kami tiba di pulau tabuhan, pulau kecil tidak berpenghuni dengan pasir putih ini berada di tengah di tengah Laut Selat Bali dengan luas pulau sekitar 5-6 Ha, dari sini kita bisa melihat Gunung Ijen, Raung. Untuk fasilitas, hanya ada 1 warung di sini yang menyajikan gorengan, minuman dan makanan kecil lainnya. Kami sempat snorkelling di salah satu spot di pulau ini.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Pulau Menjangan

Tujuan terakhir kami di hari ini adalah pulau Menjangan, pulau ini masuk wilayah kabupaten Buleleng, provinsi Bali. sesuai dengan namanya menjangan, pulau ini juga merupakan tempat perlindungan bagi menjangan, di sini kita dapat bertemu dan menfoto menjangan, namun dilarang untuk mengganggunya. Ada dermaga, jembatan kayu dan gapura dari batu yang bisa menjadi spot foto yang menarik. Kami makan siang di salah satu pendopo di tempat ini yang berdekatan dengan area konservasi menjangan.

Papan pengumuman berisi anjuran  pemerintah menerapkan CHSE juga diletakkkan di tempat yang mudah di baca pengunjung. Wastafel dengan sabun yang selalu terisi juga ada dan diletakkan di tempat yang mudah di jangkau. Di pulau Menjangan kami snorkelling selama 1,5 jam, di banding di pulau Tabuhan, alam bawah laut pulau menjangan lebih indah, karang-karang yang berwarna dan aneka ragam ikan yang ada sangat variatif, selain itu arus di pulau Menjangan lebih tenang

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->OsingDeles

 Sebelum kembali ke hotel kami belanja oleh-oleh di OsingDeles, toko oleh-oleh ini terdiri dari 2 lantai dimana lantai pertama menjual souvenir berupa t-shirt khas Osing, ikat kepala, kain, batik, boneka penari Gandrung, kopi Ijen, dan makanan khas banyuwangi seperti bagiak, sele pisang, kacang, dodol, madu dan jajanan lainnya. Bagi pecinta kopi selain kopi Robusta dan Arabica yang biasanya kita minum, di Banyuwangi ada jenis kopi lainnya yang di sebut kopi lanang, saat kami bertanya ke tourist guide kami apa yang membedakan kopi ini dengan kopi lainnya, dijelaskan bahwa kopi lanang dibuat dari biji kopi yang monokotil (memiliki 1 keping biji), biasanya biji kopi adalah dikotil ( memiliki 2 keping biji), tour guide yang menemani kami juga mengatakan, kopi lanang banyak di cari karena di percaya dapat meningkatkan stamina, tidak heran harganya lebih mahal di banding kopi Robusta dan Arabica.

 Sebelum pengunjung  masuk petugas OsingDeles akan mengecek suhu tubuh kita dengan thermos gun lalu meminta kita untuk mencuci tangan kita dengan sabun antiseptik yang diberikan setelah itu baru kita bisa memasuki toko, informasi berisi anjuran menerapkan 3 M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak) juga terpapampang di depan toko. Saat mengantri untuk membaar belanjaan di kasir, di lantai di buat tanda bagi pembeli untuk menjaga jarak satu sama lain.

<!--[if !supportLists]-->Ø    <!--[endif]-->Sun Osing

 Sebelum berangkat kembali ke Jakarta, kami makan siang di Sun Osing, toko oleh-oleh sekaligus restoran ini dekat dari bandara Banyuwangi , hanya dengan berkendara selama 10 menit kita sudah sampai di sini. Menu yang kami pilih saat itu adalah nasi tempong yang berisi nasi, sambal, tempe, tahu dana yam goreng beserta lalapan. Letaknya yang dekat dengan bandara dan tempat parker yang luas membuat tempat ini ramai dengan pengunjung.

Protokol CHSE juga diterapakan dengan baik di tempat ini mulai dari pegawainya yang mengenakan face shield dan masker. Penerapan CHSE di sini juga bagus dengan adanya pemeriksaan suhu tubuh tamu dengan thermo gun, wastafel berisi sabun dan kran untuk cuci tangan dan banner berisi info CHSE yang ditempatkan di depan pintu masuk resto.

Semoga pandemi COVID 19 segera selesai dan pariwisata bisa segera pulih, dan bila itu terjadi mari kita berwisata dalam negeri dahulu sebelum berwisata ke negara lain, banyak keanekaragaman budaya, kuliner, sejarah, alam negeri tercinta yang menjadi pilihan wisatawan asing mengunjungi Indonesia, detailnya bisa dilihat di  https://www.indonesia.travel (Muhamad Irfan-portfoliomagz.id)

#DIIndonesiaAja # WonderfulIndonesia #BecauseYouMatter# GarudaIndonesia

@pesonaid_travel @kemenparekraf.ri @garudaindonesia

 

 

 

 

 

 

See More

Latest Photos